Berapa sih energi kalor pada sebuah es yang mengalami kenaikan suhu ?.
Kali ini Amanda Dinar dan Thalisa siswa kelas 8.5 mencoba melihat langsung proses penghitungan energi kalor pada sebuah zat cari. Peralatan dirakit seperti pada foto di atas. Energi Kalor pada zat yang mengalami kenaikan suhu dipengaruhi oleh 3 hal yaitu : Massa Air, kalor jenis air dan besar kenaikan suhu
Tampilkan postingan dengan label metode mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode mengajar. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 April 2015
Rabu, 26 Februari 2014
MENGAJAR ITU IBARAT MEMBUAT FILM
Apa benar mengajar itu ibarat membuat film ?
Mungkin kalimat itu akan dapat dipahami ketika saya mencoba
mendeskripsikan beberapa hal.
Coba bayangkan sebelum pengambilan gambar sutradara membuat skenario, skenario yang dibuat sutradara harus rinci, apa yang muncul dialog atau percakapannya, tempat, bahkan suarapun diatur tertulis dalam skenario. Sedangkan guru sebelum mengajar harus menyusun skenario berupa RPP (Rencana Pelaksana Pengajaran) dimulai alokasi waktu, pembuatan rencana materi yang akan disampaikan dimulai pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup diatur oleh skenario guru.
Kemudian saat pengambilan gambar, sutradara dibantu kru-kru lain menseting tempat pengambilan gambar dengan menyiapkan hal-hal yang menarik untuk ditampilkan. Gurupun begitu, ketika mengajar dalam kelas menyiapkan beberapa media pendukung dalam penyampaian materi baik berupa video, alat peraga maupun bahan presentasi.
Bahkan saat pengambilan gambar sutradara beberapakali melakukan kesalahan yang dilakukan para artis atau aktor yang belum sesuai dengan tujuan naskah skenario.Guru pun dikelas seperti itu, saat para siswa belum bisa memahami apa yang ingin dicapai dari RPP guru, guru mengulang kembali pelajarannya atau bahasa pendidikannya REmedial kepada para siswa hingga mencapai apa yang diinginkan dalam skenario. Didalam pembuat film artis atau aktor harus bisa memainkan peran sesuai naskah, baik itu adegan sedih, seram, gembira dan lain sebagainya. Nah di kelas pun guru harus bisa menampilkan perannya, berakting saat marah, senang, gembira bahkan memotivasi para siswa.
Oleh karena itu pekerjaan guru hampir sama dengan para sutradara dan artis atau aktor lho.. SELAMAT MEMBUAT FILM..semoga FILM yang dihasilkan mendapatkan AWARD terutama dari Allah SWT..aamiin
Coba bayangkan sebelum pengambilan gambar sutradara membuat skenario, skenario yang dibuat sutradara harus rinci, apa yang muncul dialog atau percakapannya, tempat, bahkan suarapun diatur tertulis dalam skenario. Sedangkan guru sebelum mengajar harus menyusun skenario berupa RPP (Rencana Pelaksana Pengajaran) dimulai alokasi waktu, pembuatan rencana materi yang akan disampaikan dimulai pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup diatur oleh skenario guru.
Kemudian saat pengambilan gambar, sutradara dibantu kru-kru lain menseting tempat pengambilan gambar dengan menyiapkan hal-hal yang menarik untuk ditampilkan. Gurupun begitu, ketika mengajar dalam kelas menyiapkan beberapa media pendukung dalam penyampaian materi baik berupa video, alat peraga maupun bahan presentasi.
Bahkan saat pengambilan gambar sutradara beberapakali melakukan kesalahan yang dilakukan para artis atau aktor yang belum sesuai dengan tujuan naskah skenario.Guru pun dikelas seperti itu, saat para siswa belum bisa memahami apa yang ingin dicapai dari RPP guru, guru mengulang kembali pelajarannya atau bahasa pendidikannya REmedial kepada para siswa hingga mencapai apa yang diinginkan dalam skenario. Didalam pembuat film artis atau aktor harus bisa memainkan peran sesuai naskah, baik itu adegan sedih, seram, gembira dan lain sebagainya. Nah di kelas pun guru harus bisa menampilkan perannya, berakting saat marah, senang, gembira bahkan memotivasi para siswa.
Oleh karena itu pekerjaan guru hampir sama dengan para sutradara dan artis atau aktor lho.. SELAMAT MEMBUAT FILM..semoga FILM yang dihasilkan mendapatkan AWARD terutama dari Allah SWT..aamiin
Minggu, 16 Februari 2014
Pentingnya Bahasa Komunikasi dalam Pengajaran
Apa yang dilakukan orangtua saat memiliki anak yang belum memiliki gigi ingin makan jagung ? .Tentu sebagai orangtua yang sayang dengan anaknya akan berusaha mengabulkan permintaan anaknya tersebut. Lalu bagaimana caranya agar jagung tersebut dapat dimakan oleh anaknya.Diberi begitu saja jangung tersebut, atau dipretelin biji jagung tersebut. Kedua pilihan tersebut ternyata belum bijaksana. Mengapa karena anak itu belum bisa mengunyah biji jagung tersebut. Biji jagung yang akan dimakan anak yang masih belum tumbuh gigi tersebut harus diblender, digiling sampai sehalus mungkin baru anak tersebut dapat memakannya.
Peristiwa tersebut saya analogikan pada pentingnya komunikasi yang mudah dimengerti anak atau siswa dalam pembelajaran di kelas. Guru yang hanya mengajar dengan bahasa teks book, yang kadang banyak sekali bahasa-bahasa baku akan sangat menyulitkan pemahaman para siswa. Pengalaman dalam mengajar , evaluasi yang kita berikan akan menunjukkan seberapa kualitas kita dalam menyampaikan materi pembelajaran dan itu akan memberikan pengalaman betapa pentingnya komunikasi dalam pengajaran.
Beberapa tips yang harus dilakukan oleh guru terutama dalam bahasa komunikasi dalam pengajaran.
1. Guru harus meramu komunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti sebelum mengajar
2. Mengajar itu bagai naskah skenario kadang beberapa kali dalam penyampaian baru muncul ide untuk memperbaiki kesalahan komunikasi. Jadi berlatih terus untuk mendapatkan formula komunikasi yang tepat.
3. Pentingnya membuat storyboad apa yang akan ditulis dipapan tulis, apakah tulisan kita bisa membuat mengerti apa yang disampaikan atau tidak?
4. Menguasi Materi dengan memperbanyak membaca buku-buku, dengan membaca buku-buku akan memberikan inspirasi sehingga kita bisa mengajar lebih percaya diri sekaligus merangsang ide untuk lebih menarik dalam penyampaian materi
5. Gunakan Intonasi dan tempo dalam berkomunikasi, tahu kapan harus penekanan terhadap beberapa konsep materi.
Lima tips itu mudah-mudahan dapat bermanfaat..
| Dok Pribadi |
Peristiwa tersebut saya analogikan pada pentingnya komunikasi yang mudah dimengerti anak atau siswa dalam pembelajaran di kelas. Guru yang hanya mengajar dengan bahasa teks book, yang kadang banyak sekali bahasa-bahasa baku akan sangat menyulitkan pemahaman para siswa. Pengalaman dalam mengajar , evaluasi yang kita berikan akan menunjukkan seberapa kualitas kita dalam menyampaikan materi pembelajaran dan itu akan memberikan pengalaman betapa pentingnya komunikasi dalam pengajaran.
Beberapa tips yang harus dilakukan oleh guru terutama dalam bahasa komunikasi dalam pengajaran.
1. Guru harus meramu komunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti sebelum mengajar
2. Mengajar itu bagai naskah skenario kadang beberapa kali dalam penyampaian baru muncul ide untuk memperbaiki kesalahan komunikasi. Jadi berlatih terus untuk mendapatkan formula komunikasi yang tepat.
3. Pentingnya membuat storyboad apa yang akan ditulis dipapan tulis, apakah tulisan kita bisa membuat mengerti apa yang disampaikan atau tidak?
4. Menguasi Materi dengan memperbanyak membaca buku-buku, dengan membaca buku-buku akan memberikan inspirasi sehingga kita bisa mengajar lebih percaya diri sekaligus merangsang ide untuk lebih menarik dalam penyampaian materi
5. Gunakan Intonasi dan tempo dalam berkomunikasi, tahu kapan harus penekanan terhadap beberapa konsep materi.
Lima tips itu mudah-mudahan dapat bermanfaat..
Jumat, 14 Februari 2014
Pendidikan adalah Pemaksaan
Pendidikan
adalah pemaksaan kata-kata itu masih tertancap dalam mindsite saya
ketika saya mulai mengajar di STM BUNDA KANDUNG, itu terlontar dari
Bapak Sutiadi, Kepala Sekolah STM Bunda Kandung. Menghubungkan dari buku
HABITS karya Felix Siaw ternyata kata-kata beliau benar. Ketika logika
sudah tidak dikedepankan butuh suatu pemaksaan hingga menjadi HABITS
atau pembiasaan. Ketika Habits sudah
terbentuk lama kelamaan akan mengerti juga makna dibalik pemaksaan
tersebut. Pemaksaan untuk shalat misalnya, ketika sudah berjalan selama
30 hari waktu minimal untuk membentuk pembiasaan menurut Felix dalam
bukunya tersebut maka sudah menjadi otomatis bagai mesin yang berjalan.
Terimakasih buat Bapak Sutiadi, kata-kata yang singkat tapi bermakna. . .
.
Rabu, 13 November 2013
Menjadikan Metode Ceramah yang Efektif
Fakta tentang Metode Ceramah
Berbicara panjang lebar mengenai mata pelajaran di depan kelas yang banyak dilakukan oleh guru melalui metode ceramah kadang kala membuat bosan dan kurang menarik bagi para siswa, kata-kata yang terus diulang, intonasi suara yang tidak jelas, volume suara yang tidak menjangkau kelas ditambah lagi jam pelajaran setelah istirahat dengan kondisi perut kenyang menambah semakin mengantuk bahkan bisa tertidur.
Metode mengajar dengan ceramah perlu direncanakan dengan baik, karena metode mengajar ini merupakan penyampaian informasi dari guru kepada siswa.Tujuan dari metode ceramah pada dasarnya adalah agar siswa mengetahui informasi yang disampaikan dan untuk mengingat materi yang pernah diajarkan.
Lalu bagaimana menjadikan ceramah yang menarik dan efektif ?
Ada dua faktor yang harus disiapkan jika guru menggunakan metode ceramah ini yaitu Faktor Teknis dan Non Teknis .Adapun untuk Faktor Teknis antara lain ;
1. Volume suara yang dapat menjangkau dalam kelas
2. Intonasi dengan turun naiknya suara dapat menarik perhatian
3. Menggunakan komputer / laptop dengan presentasi audio visual
4. Alat peraga sederhana yang dapat dibawa ke kelas
5. Lembar Kerja / Handout terhadap materi yang disampaikan
6. Adanya tanya jawab
7. Kombinasikan dengan ice breaker
8. Mengevaluasi ceramah yang disampaikan dapat melalui alat rekam agar menjadi evaluasi dimana kelemahan dan kekurangannya
9. Evaluasi dapat melalui pertanyaan langsung kepada siswa tentang materi yang disampaikan
10. Berikan kuis atau pertanyaan-pertanyaan spontan
Sementara untuk faktor Non Teknis antara lain;
1. Untuk jam pelajaran istirahat dimana kondisi siswa dalam keadaan perut kenyang lebih mudah mengantuk 2. Ada ulangan sebelumnya atau sesudahnya ini juga merupakan masalah non teknis yang dapat mengganggu konsentrasi siswa ketika guru akan memberikan ceramah.
Faktor non teknis ini perlu kebijaksanaan guru untuk memberikan waktu sekitar 10 menit untuk melepaskan kepenatan setelah ulangan atau waktu sebelum bel berbunyi untuk mempersiapakan ulangan mata pelajaran berikutnya. Dengan bahasa yang penuh pengertian dan efektif insya Allah fokus dan konsentrasi paras siswa kepada ceramah yang akan guru sampaikan lebih efektif.
Sumber : Buku NYALAKAN KELASMU (20 Metode Mengajar dan Aplikasinya ) karya Sigit Setyawan.
Berbicara panjang lebar mengenai mata pelajaran di depan kelas yang banyak dilakukan oleh guru melalui metode ceramah kadang kala membuat bosan dan kurang menarik bagi para siswa, kata-kata yang terus diulang, intonasi suara yang tidak jelas, volume suara yang tidak menjangkau kelas ditambah lagi jam pelajaran setelah istirahat dengan kondisi perut kenyang menambah semakin mengantuk bahkan bisa tertidur.
Metode mengajar dengan ceramah perlu direncanakan dengan baik, karena metode mengajar ini merupakan penyampaian informasi dari guru kepada siswa.Tujuan dari metode ceramah pada dasarnya adalah agar siswa mengetahui informasi yang disampaikan dan untuk mengingat materi yang pernah diajarkan.
Lalu bagaimana menjadikan ceramah yang menarik dan efektif ?
Ada dua faktor yang harus disiapkan jika guru menggunakan metode ceramah ini yaitu Faktor Teknis dan Non Teknis .Adapun untuk Faktor Teknis antara lain ;
1. Volume suara yang dapat menjangkau dalam kelas
2. Intonasi dengan turun naiknya suara dapat menarik perhatian
3. Menggunakan komputer / laptop dengan presentasi audio visual
4. Alat peraga sederhana yang dapat dibawa ke kelas
5. Lembar Kerja / Handout terhadap materi yang disampaikan
6. Adanya tanya jawab
7. Kombinasikan dengan ice breaker
8. Mengevaluasi ceramah yang disampaikan dapat melalui alat rekam agar menjadi evaluasi dimana kelemahan dan kekurangannya
9. Evaluasi dapat melalui pertanyaan langsung kepada siswa tentang materi yang disampaikan
10. Berikan kuis atau pertanyaan-pertanyaan spontan
Sementara untuk faktor Non Teknis antara lain;
1. Untuk jam pelajaran istirahat dimana kondisi siswa dalam keadaan perut kenyang lebih mudah mengantuk 2. Ada ulangan sebelumnya atau sesudahnya ini juga merupakan masalah non teknis yang dapat mengganggu konsentrasi siswa ketika guru akan memberikan ceramah.
Faktor non teknis ini perlu kebijaksanaan guru untuk memberikan waktu sekitar 10 menit untuk melepaskan kepenatan setelah ulangan atau waktu sebelum bel berbunyi untuk mempersiapakan ulangan mata pelajaran berikutnya. Dengan bahasa yang penuh pengertian dan efektif insya Allah fokus dan konsentrasi paras siswa kepada ceramah yang akan guru sampaikan lebih efektif.
Sumber : Buku NYALAKAN KELASMU (20 Metode Mengajar dan Aplikasinya ) karya Sigit Setyawan.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
